Thursday, September 2, 2010

Misteri Candi Bawah Laut Terpecahkan

Sepanjang hari ini muncul heboh penemuan candi bawah laut yang disebut-sebut berada di antara Laut Jawa dan Bali. Bahkan, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata berjanji menurunkan tim untuk mengecek benar-tidaknya kabar tersebut meski sempat meragukan kebenarannya.

Namun, misteri candi bawah laut tersebut kini telah terpecahkan. Candi tersebut memang benar ada, tepatnya di daerah Pemuteran, perairan Bali utara. Namun, candi tersebut bukanlah peninggalan arkeologis melainkan candi buatan yang sengaja dibangun di kawasan konservasi terumbu karang.

Hal tersebut dikatakan Paul M Turley, pemilik Sea Rover Dive Center yang mengambil foto-foto kontroversial tersebut, seperti dilansir situs the Jakarta Globe. Candi buatan yang diberi nama Taman Pura itu dibangun mulai tahun 2005 pada kedalaman 15-29 meter.

Kawasan tersebut merupakan bagian dari proyek konservasi terumbu karang Reef Gardiners yang mendapat dukungan dana dari Australian Agency for International Development (AusAid). Di sana terdapat 10 patung dan sebuah struktur candi yang kini sudah diselimuti karang.
kompas.com
Read more »

"Green Label" Plastik Ramah Lingkungan

Berdasarkan data InSWA, 100 persen masyarakat di dunia menghasilkan sampah, tapi hanya kurang dari 1 persen yang peduli terhadap pengelolaan sampah. Bahkan tidak seorang pun bersedia ketempatan sampah, meskipun itu hasil buangan dirinya sendiri.

"Saat ini rata-rata orang Indonesia menghasilkan sampah 0,5 kg dan 13 persen di antaranya adalah plastik. Jadi sebenarnya orang kita punya dosa 0,5 kg sampah tiap hari," ujar Ketua Umum InSWA, Sri Bebassari, Selasa (31/8/2010), dalam jumpa pers di Grand Indonesia, Jakarta.
Khusus untuk wilayah Jakarta, sampah bisa mencapai 6.000 ton/hari dan 13,25 persen juga berasal dari sampah plastik. Sri melihat adanya tren penggunaan plastik ini meningkat bahkan nyaris menyalip penggunaan kertas dalam pembuatan produk sehari-hari.
"Tapi masalahnya, plastik ini sulit didaur ulang, ia mengurai perlu waktu 500-1000 tahun," ujarnya. Oleh karena itu, salah satu ide bijak untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menggunakan plastik yang ramah lingkungan.
Maka melalui institusinya, InSWA, Sri pun memberikan sertifikasi Green Label bagi produk plastik yang telah lolos uji ramah di lingkungan setelah melalui tahap observasi dan uji lab BPPT. "Green Label adalah sertifikasi hijau yang diberikan pada produk ramah lingkungan yang dinilai aman dan tidak membahayakan kesehatan manusia," ujarnya.
Hingga saat ini, baru ada satu perusahaan yang memperoleh sertifikasi ini yakni PT Tirta Marta yang memproduksi plastik Oxium yang mampu diurai dalam waktu dua tahun saja. Plastik Oxium ini sudah mulai dipakai oleh sebagain besar ritel di tanah air seperti Indomaret, Carrefour, Alfamart, Hero, Giant, Superindo, Kemchick, dan Gramedia.
"Ke depannya kita sudah diajukan beberapa konsep Green Label tidak hanya untuk produk tapi juga untuk bangunan, Green building, Green Mall, dan lain-lain konsepnya masih kita susun," ungkap Sri.
Dengan adanya Green Label ini, Sri berharap ke depannya akan membuat lebih banyak pihak yang termotivasi untuk melakukan hal yang sama. "Kita selalu mengapresiasi setiap langkah kecil yang dilakukan masyarakat. Masalah sampah adalah masalah kita semua jadi memang harus ada peran serta dari seluruh stakeholder dan masyarakat untuk berkomitmen menyelamatkan bumi ini," tandas wanita yang sedari tahun 1980-an ini meneliti tentang sampah.
kompas.com
Read more »

Related Posts with Thumbnails

 
Cheap Web Hosting | Top Web Hosts | Great HTML Templates from easytemplates.com.